Jauh pada pandangan yang kosong, mataku
menatap lembut nya awan diteriknya panas matahari.
Awan biru yang menambah keindahan disiang
itu membuat hati seperti melayang diangkasa seiring terbangnya LionAir Batam-Medan. Seketika itu rasanya apa yang sedang terjadi pada Ayah seperti
mimpi. Antara percaya dan tidak kalau Ayah sudah tiada. Disepanjang perjalanan
pikiran terkuras pada Ayah.
Ayah…Ayah..dan Ayah..
Benarkah Ayah telah meninggalkanku untuk
selamanya ???
Mengapa secepat ini ??? Apa harus Ayahku ???
Banyak
pertanyaan konyol menghantui pikirankanku. Penumpang yang lalu lalang dihadapanku, mereka terlihat
senang dan ceria seakan tidak ada masalah ataupun beban yang mereka rasakan.
Hati kecilku berkata “Seandainya Ayah masih hidup pasti aku akan ceria seperti
mereka”. Namun, bukan kuat bukan gagah untuk melakukan apa yang kuingini. Semua
yang terdapat dibumi ini Tuhanlah yang memegang kendali termasuk Ayah. Merasa
bahwa hidup ini tidak adil. Disaat- saat aku banyak pergumulan, banyak
menghadapi tantangan, disaat aku menjelang UAS
dan Ayah pun pergi untuk selamanya. Seperti duri didalam daging itulah
yang aku rasakan.
Kenapa Ayah pergi seketika itu juga ???
Apakah tidak ada waktu yang lain ya Tuhan
???
Kekosongan hati dan pikiran membuat apa yang aku lihat, apa
yang aku dengar bahkan apa yang aku rasakan sepertinya hampa. Aku pulang
menemui Ayah untuk yang terakhir kalinya dalam keadaan tidak bernyawa. Aku
semakin terpuruk dalam kesedihan. Jauh dari negeri orang aku membawa tangis dan
duka yang amat dalam bagi keluargaku. Aku pergi dari hadapan Ayah dan Ibu untuk
meraih sukses yang kelak bisa membuat Ayah dan Ibu bangga padaku. Akan tetapi,
kepergian Ayah membuat aku ingin menyerah. Tidak semangat menjalani hidup,
tidak sanggup menatap hari esok bahkan
untuk tersenyum sajapun aku sudah tidak sanggup. Aku belum siap
kehilangan Ayah. Berharap sampai dikediaman Ayah menemui seisi rumah bersuka
cita. Berusaha tetap tegar dihadapan Ibu ketika sampai dirumah akan tetapi,
hati begitu lemah dan tidak berdaya saat harus melihat benar-benar bahwa Ayah
sudah tiada. Airmata yang tidak terbendung membasahi pipiku. Ayah sudah tidak
bisa mendengar dan melihat aku lagi. Ayah sudah benar-benar pergi untuk
selamanya. Aku ingin sungkem sama Ayah tapi itu tidak akan pernah terjadi lagi.
Sedetik pun waktu gak akan bisa kembali kebelakang dan akupun harus merelakan
kepergian Ayah. Terdiam melihat wajah Ayah yang putih pucat dan mengenang
segala kebaikan bahkan pengorbanan Ayah bagiku.
Ayah
pribadi yang kuat.
Pantang menyerah.
Ayah
orang yang sederhana dan tidak pernah menuntut lebih pada Ibu.
Meskipun Ayah sering marah tapi untuk
kebaikan.
Ayah adalah sosok pribadi yang tegar.
Ayah pekerja keras.
Dan Ayah juga suka bercanda sama keluarga.
Semua keluarga yang mengasihi Ayah sangat
kehilangan terutama Ibu dan anak-anak yang sangat sayang sama Ayah. Ibu harus
menyandang status janda setelah kepergian Ayah. Selamat jalan Ayah tempat yang
terindah Tuhan sediakan bagi Ayah disurga yang kekal.
“God
Love My Beloved Dad”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar