Total Tayangan Halaman

Sabtu, 14 September 2013

MISS MY BELOVED DAD


Jauh pada pandangan yang kosong, mataku menatap lembut nya awan diteriknya panas matahari.
Awan biru yang menambah keindahan disiang itu membuat hati seperti melayang diangkasa seiring terbangnya LionAir  Batam-Medan. Seketika itu rasanya  apa yang sedang terjadi pada Ayah seperti mimpi. Antara percaya dan tidak kalau Ayah sudah tiada. Disepanjang perjalanan pikiran terkuras pada Ayah.  Ayah…Ayah..dan Ayah..
Benarkah Ayah telah meninggalkanku untuk selamanya ???
Mengapa secepat ini ???  Apa harus Ayahku ???
Banyak  pertanyaan konyol menghantui pikirankanku. Penumpang yang  lalu lalang dihadapanku, mereka terlihat senang dan ceria seakan tidak ada masalah ataupun beban yang mereka rasakan. Hati kecilku berkata “Seandainya Ayah masih hidup pasti aku akan ceria seperti mereka”. Namun, bukan kuat bukan gagah untuk melakukan apa yang kuingini. Semua yang terdapat dibumi ini Tuhanlah yang memegang kendali termasuk Ayah. Merasa bahwa hidup ini tidak adil. Disaat- saat aku banyak pergumulan, banyak menghadapi tantangan, disaat aku menjelang UAS  dan Ayah pun pergi untuk selamanya. Seperti duri didalam daging itulah yang aku rasakan.
 Kenapa Ayah pergi seketika itu juga ???
Apakah tidak ada waktu yang lain ya Tuhan ???
 Kekosongan hati  dan pikiran membuat apa yang aku lihat, apa yang aku dengar bahkan apa yang aku rasakan sepertinya hampa. Aku pulang menemui Ayah untuk yang terakhir kalinya dalam keadaan tidak bernyawa. Aku semakin terpuruk dalam kesedihan. Jauh dari negeri orang aku membawa tangis dan duka yang amat dalam bagi keluargaku. Aku pergi dari hadapan Ayah dan Ibu untuk meraih sukses yang kelak bisa membuat Ayah dan Ibu bangga padaku. Akan tetapi, kepergian Ayah membuat aku ingin menyerah. Tidak semangat menjalani hidup, tidak sanggup menatap hari esok bahkan  untuk tersenyum sajapun aku sudah tidak sanggup. Aku belum siap kehilangan Ayah. Berharap sampai dikediaman Ayah menemui seisi rumah bersuka cita. Berusaha tetap tegar dihadapan Ibu ketika sampai dirumah akan tetapi, hati begitu lemah dan tidak berdaya saat harus melihat benar-benar bahwa Ayah sudah tiada. Airmata yang tidak terbendung membasahi pipiku. Ayah sudah tidak bisa mendengar dan melihat aku lagi. Ayah sudah benar-benar pergi untuk selamanya. Aku ingin sungkem sama Ayah tapi itu tidak akan pernah terjadi lagi. Sedetik pun waktu gak akan bisa kembali kebelakang dan akupun harus merelakan kepergian Ayah. Terdiam melihat wajah Ayah yang putih pucat dan mengenang segala kebaikan bahkan pengorbanan Ayah bagiku.
 Ayah pribadi yang kuat.
Pantang menyerah.
 Ayah orang yang sederhana dan tidak pernah menuntut lebih pada Ibu.
 Meskipun Ayah sering marah tapi untuk kebaikan.
Ayah adalah sosok pribadi yang tegar.  
Ayah pekerja keras.
Dan Ayah juga suka bercanda sama keluarga.
Semua keluarga yang mengasihi Ayah sangat kehilangan terutama Ibu dan anak-anak yang sangat sayang sama Ayah. Ibu harus menyandang status janda setelah kepergian Ayah. Selamat jalan Ayah tempat yang terindah Tuhan sediakan bagi Ayah disurga yang kekal.
“God Love My Beloved Dad”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar