Andai Tuhan menjawab doaku,
aku tentu akan memberikan janji imanku. Ya, siapa yang tak ingin membalas jasa
Tuhan yang telah mengabulkan doaNya? Anda mau? Saya juga mau! Amboi, gampang
sekali hidup ini rasanya kalau angan-angan itu benar-benar terjadi. Di
mana-mana doa semua orang terjawab. Di mana-mana semua orang memberikan janji
imannya. Akh… barangkali tidak terhitung banyaknya persembahan yang sampai ke
gereja kalau semua itu nyata. Sayang, hal itu tidak mudah terjadi. Tuhan tidak
mudah kita iming-imingi sesuatu agar Dia mau mengabulkan permintaan kita.
Tuhan bukan tidak mau
menjawab doa-doa umatNya. Buktinya, Musa, Harun dan Samuel telah menerima jawaban
doa-doanya. Namun, bukan persembahan yang Allah tuntut dari mereka. Pemazmur
menegaskan bahwa Allah hanya menginginkan agar mereka semua tunduk pada
penyataan Allah; berpegang pada peringatan dan ketetapanNya; dan memiliki
disiplin dalam mengikuti kehendakNya. Mengapa? Sebab Ia bukan hanya sebagai
Allah berkat, tetapi juga adalah Allah berkeadilan. Ia mau juga menyediakan
hukuman bagi para penantangNya (bnd. Mazmur 99:6-8).
Allah tidak
mengharapkan uang atas berkat yang telah diberikanNya. Ia tidak matre!
Ia hanya mencari hati yang mau meninggikanNya. Ia hanya ingin menemukan hati
yang mau menyembahNya. Ia ingin orang yang mau beribadah kepadaNya dengan
kekudusan. Sebab orang yang demikianlah yang dapat mempersembahkan persembahan
yang Allah tuntut.
"’Sebab di atas
gunung-Ku yang kudus, di atas gunung Israel yang tinggi,’ demikianlah firman
Tuhan ALLAH, ‘di sana di tanah itu segenap kaum Israel dalam keseluruhannya
akan beribadah kepada-Ku. Di sana Aku akan berkenan kepadamu dan di sana Aku
akan menuntut dari kamu persembahan-persembahan khususmu dan sajian-sajianmu
yang terpilih, segala yang kamu kuduskan.’" (Yesaya 20:40).
Jika Allah menjawab doa Anda,
tinggikanlah Allah TUHAN kita, dan sujudlah menyembah di hadapanNya yang kudus!
Sebab kuduslah TUHAN, Allah kita!